Allah swt, Pulsa, dan Komik Jepang: Resensi Tentang Kehidupan dan Penciptanya

puasakomik1

“Allah itu ada dimana-mana, bahkan di angka nol sekalipun. Karena nol pangkat nol sama dengan SATU. Eh, bener kan yah analisa matematikanya. Hehe” ~quote-nya Dila yang suka ga jelas.

 

 

Ah, lagi-lagi rasa ‘bungah’ itu datang ketika saya mendapat buku (objek) yang menjadi bahan bacaan baru bagi saya. Seperti tulisan pada paragraph pertama pada artikel saya yg berjudul Menyiapkan Momentum: Karena Kita adalah Bagian dari Momentum itu  (ulasan dari bukunya bang Rijalul Imam yang berjudul “Menyiapkan Momentum”) saya pun kali ini juga menulis tentang perasaan bungah ketika bertemu dengan buku dan ketika harus mengulasnya. Hmm… *senyum-senyum sendiri*

 

Buku yang ingin saya ulas kali ini ialah buku karya pak (atau saya panggil om aja nih) Tauhid Nur Azhar yang berjudul Allah Swt, Pulsa, dan Komik Jepang: Menelusuri Jejak Tauhid. Saya baru saja mendapat pinjaman buku ini dua hari yang lalu dari seorang teman yang sangat baik. Ketika itu saya dengan wajah memelas memintanya untuk meminjamkan buku kecil itu pada saya. Lalu dia bilang, “boleh, tapi seharinya….” Teman saya itu menggantungkan ucapannya. Saya pun keburu malas, karena biasanya nada-nada seperti itu alamat tidak memperbolehkan barangnya dipinjam orang lain. Tapi ternyata saya salah, dia mau meminjamkannya dengan tulus pada saya karena kebetulan ia sudah membaca. *asiikkk….!!* hati saya bersorak ramai. :ketawa:

 

Allah Swt, Pulsa, dan Komik Jepang merupakan judul yang cuku menarik dan bikin penasaran khususnya bagi para pembaca awam yang tidak tahu strategi marketing pemasaran buku (kayak Dila tau ajah deh). Pasalnya teman saya yang meminjamkan buku ini pada saya itu bilang, “Tapi judul-judul ini engga nyambung satu sama lain, Dil. Ceritanya terpisah semua. Kirain bakalan ada hubungannya satu sama lain. tapi keseluruhannya bagus kok.”. Saya hanya manggut kecil. Sebenarnya dari judulnya saya sudah tau jika ini pasti tentang penggalan-penggalan kisah sarat hikmah yang pada ujungnya selalu terkait dengan keesaan dan keberadaan Tuhan. Dan ternyata memang benar, kurang lebih isinya seperti yang saya duga.

 

Menelusuri Jejak Tauhid pun merupakan judul yang oke dan bermakna ganda yang keren menurut saya. kenapa? Ya, karena pertama, menelusuri jejak tauhid bisa diartikan menelusuri keberadaan Tuhan dan keesaan-Nya seperti yang telah saya kemukakan diatas. dan yang kedua, menelusuri jejak tauhid bisa diartikan menelusuri jejak atau cerita hidupnya si-Tauhid, sang pengarang buku ini. Nyambung kan? Menarik kan? Hebat yang bikin judul. Entah sengaja atau tidak mau buat sub judul seperti ini, tapi semuanya bermuara pada hal yang saling terkait yakni tentang cerita si-Tauhid dalam rangka mengenal Ketauhidan Tuhan.

 

Saya hanya butuh seharian membaca buku ini. Di tempat tidur kosan, di kantor tempat magang (sambil ngawas orang-orang yang lagi test TOEFL), di bus way dan di angkot yang alhamdulillah lampunya cukup terang menerangi saya membaca pada senja yang gelap. Sambil menahan guncangan jalan raya yang rusak (nakal betul Dila ini, udah tau minus dan silindernya gede betul, tapi masih aja suka baca di angkot. Kata guru fisika SMP itu justru bikin mata makin rusak), saya berusaha menahan air mata dan tawa saya ketika membaca kisahnya pak Tauhid. Mengharukan dan benar-benar membuat iri (aduh ngapain iri sih, manusia kan ditakdirkan memiliki rezeki masing-masing). Semua kisahnya saya suka. Namun ada satu artikel yang saya kurang mengerti, yakni yang mengenai ikan salmon. Atau saya yang bebel yah, hehe. Dan yang paling membuat saya terharu ialah tiga kisah terakhir yang tercatat di daftar isi. So sweet!

 

Hidup ini memang indah, terutama bagi mereka yang bisa memaknai dan mengambil hikmahnya. Dan hidup ini adalah sebuah satu paket perjalanan menyenangkan termasuk suka dan dukanya, juga pahit, getir, asam, asin hingga manisnya. Namun sayang, ternyata banyak yang tidak bisa mengambil hikmah dan mengambil sisi keindahan dari kehidupan yang dimilikinya. Sehingga yang ada hanyalah kesempitan dan kesempitan. Penuh sesak dan ditekan dengan makhluk yang bernama ‘stress’ sehingga bisa menimbulkan penyakit kanker. Ya ga pak Tauhid J ?

 

Ah, Cuma segini yang bisa saya ulas. Tidak sebagus Om Pepeng yang menulis kata pengantar buat bukunya pak Tauhid ini tentunya. Tapi saya senang bisa menuangkan apa yang saya rasakan ke dalam tulisan. Dan ini seperti biasanya, ya seperti biasanya. Saya selalu menulis tentang mereka yang saya kagumi (termasuk pak Tauhid. Semoga kapan2 bisa ketemu dan bisa wawancara seperti wawancara saya pada semua orang yang saya kagumi) seperti tukang sayur berwajah teduh, tukang Koran yang selalu ber-ikhtiar, atau kisah tentang adik saya yang buta sebelah, atau pula ketika saya bercengkrama dengan capung.

 

Semoga bermanfaat. J

 

 

Thx to:

~  Allah Swt

 

~ Buku Allah Swt, Pulsa, dan Komik Jepang: Menelusuri Jejak Tauhid yang diterbitkan pada Juni 2008 oleh Cicero Publishing (juga kepada penulisnya)

 

~  Nuryana Satiya, temanku yang baik, yang mau meminjamkan buku bagus ini padaku.

Meskipun Dikau Buta, Dik

Tulisan ini adalah tulisan lama saya di tahun 2009 (22/4/2009), mengenai salah satu adik saya, Hulwatul Hilma, yang buta sebelah karena ‘dicolok’ lidi oleh adiknya (adik bungsu kami), Lu’luatusibhgoh (Lulu). Kini di tahun 2011, Hilma sudah duduk di kelas 3 SD (terpilih masuk di kelas unggulan), sementara Lulu kini duduk di kelas 1 SD. Tulisan ini saya sertakan kembali di acaranya teh Orin, 1st Giveaway. Bukan karena ingin mengejar posisi sebagai pemenang, namun karena saya ingin berbagi pengalaman tentang adik saya, Hilma, bidadari cantik yang cerdas. Semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari pengalaman ini. Terima kasih.. :)

***

Hulwatul Hilma

Hulwatul Hilma ketika menjalani perawatan (operasi mata) di RSCM

Apa yang kita kan lakukan ketika sesuatu yang dititipkan pada kita diambil kembali oleh Yang Menitipkan? Adakah emosi yang menjalar pada pembuluh darah di sepanjang jalur badan? Adakah rasa pedih yang menjadi-jadi ketika kita tak mampu memahaminya? Adakah?? Ah, sesungguhnya setiap manusia pasti mengalami hal perih ini dalam hidup. Hal seperti ini biasa sekali disebut dengan cobaan atau rintangan. Tinggal manusia itu sendiri dievaluasi dengan kemampuan ia dalam menghadapi segala jenis ujian itu. seperti apa tingkat nilainya.

Saya memiliki keluarga besar dengan orang tua yang baik dan adik-adik yang cerdas dan lucu. Apalagi saya yang sudah besar ini kebetulan masih memiliki dua adik kecil yang masih berusia balita. Mereka lucu, cantik, aktif juga cerdas. Masing-masing bernama Hilma dan Lu’lu, dua nama indah yang tepat untuk mereka berdua. Namun sayang, salah satu dari mereka harus menerima kepedihan ujian sejak dini. Matanya buta sebelah karena insiden yang mungkin telah ditakdirkan.

 

Ketika itu, kawan, terjadi pada November 2007. Hilma masih berumur 4 tahun dan Lu’lu berumur 2 tahun. Tiada yang masalah sebenarnya jika ketika hari kamis di pertengahan bulan November itu Hilma tidak malas sekolah. Maklum yang namanya anak kecil, kadang suka moody kalo sekolah. Akhirnya Hilma tinggal di rumah bersama adiknya dan seorang khodimat keluarga. Dan karena tidak sekolah, Hilma dan Lu’lu pun bermain bersama di dalam rumah. Sementara khodimat melangsungkan pekerjaannya. Namun entah kenapa, tiba-tiba Hilma dan Lu’lu agak bertengkar yang mengakibatkan Lu’lu bertindak defensive dengan menusukkan lidi kayu ke mata kanan Hilma. Sontak Hilma menjerit kesakitan dan matanya langsung memerah, ada pendarahan dalam matanya!!

 

Setelah itu, kami langsung membawanya ke RS hingga beberapa lamanya dan bahkan harus dirawat dan dioperasi di RSCM. Proses perawatan dan operasi ini berlangsung hingga memasuki tahun 2008 (kebetulan Hilma sempat dibawa pulang ke rumah setelah diputuskan untuk dioperasi kembali di tahun 2008 karena matanya kembali mengalami pendarahan). Harap-harap cemas kami menanti akhir dari pengobatan ini. Apapun hasilnya! Mata kanan Hilma mulai memutih semua, bola mata hitamnya yang sering berbinar-binar telah tertutup oleh kabut putih semacam selaput. Kata dokter lukanya telah merobek korneanya dan membuatnya sulit tertolong.

 

Hingga ketika hari keputusan itu tiba. Saya, bapak dan juga Hilma menemui dokter di ruang khusus penderita Glaukoma (kok jadi sakit Glaukoma ya adikku itu. oh, mungkin jenisnya sama). Ketika itu dokter bertanya pada adik kecilku yang cerdas itu.

“Ini berapa??” Dokter melipat jarinya membentuk angka satu.

“Masa dokter ga tau sih?? Itu kan satu!” Jawab Hilma membuat dokter dan bapak tertawa.

 

Kemudian pemeriksaan berlanjut, juga pengetesan penglihatan bagi adikku itu. hingga akhirnya bapak dan adikku pun keluar ruangan. Saya tidak banyak bertanya sebelum akhirnya sampai ke lift.

“Hilma udah boleh pulang.” Kata bapak sambil menahan tangis.

“Terus gimana matanya?” Saya bertanya.

“Udah tidak ada harapan lagi kata dokter. Tinggal mata sebelah kirinya yang harus terus dijaga” Bapak pun menyeka air mata yang meleleh di kedua pipinya. Sementara Hilma yang ada dalam gendongannya tidak menyadari hal itu.

Saya tertunduk. Ah, bapakku yang tegar ternyata tidak setegar ibuku. Ah, bapakku yang tegar, ternyata tega menangis di depan anaknya. Saya pun ikut menangis, meski hanya dalam hati. Ternyata terkadang perempuan lebih kuat dan tegar daripada laki-laki.

 

Ah, meskipun dikau buta, dik…

Aku masih tetap menyayangimu

Bagiku kau masih tetap yang tercantik dan tercerdas

Meskipun dikau buta, dik…

Tidak ada yang memapu mengalahkanmu untuk tinggal di hatiku

Kau adalah bidadari kami yang bersinar meski tanpa cahaya mata yang sempurna

Namun sayapmu cukuplah menjelaskan semua kecantikan yang terpancar

Meskipun dikau buta, dik…

 

Sekarang Hilma (pada tahun 2009 ini) Hilma –alhamdulillah- telah berhasil diterima sebagai murid baru SDIT At-Taqwa dekat rumah kami. Insya Allah dia akan dites kembali untuk menempati kelas unggulan di kelas barunya. Semoga berkah ya, dik.

 

~terkadang saya sedikit terharu ketika ia mengungkapkan cita-citanya ketika besar nanti. “Aku mau jadi DOKTER.” Ujarnya. Dokter dengan mata yang buta di sebelah kanan. Oh, adakah dokter dengan kondisi seperti itu?? Bisakah? Saya tercenung~

 

 

Thx to Allah Swt (atas segala-Nya. Dan kami pun masih bisa bersyukur ALHAMDULILLAH).

 

PS. Foto diatas diambil ketika Hilma berada dalam proses perawatan di RSCM.

***

Foto hilma terbaru :)

Foto Hilma terbaru ketika sedang makan siang bersama di Saato Restaurant

Indahnya Menulis Skripsi : Sebuah Motivasi

images

Banyak mahasiswa yang merasa down saat menulis skripsi atau tugas akhir. Merasa buntu dan berpikiran tak karuan. Sepertinya skripsi dan tugas akhir ialah merupakan momok yang menakutkan bagi setiap mahasiswa di akhir tahun kuliahnya. Kasus-kasus seperti ini tidak perlu ditakuti namun tidak perlu juga dipungkiri.

 

Menulis skripsi dan tugas akhir itu mudah sebenarnya, asal saja konsep atau proposal kita sebelumnya sudah cukup matang untuk menganalisa kasus yang kita angkat dan akan kita jadikan skripsi itu. Namun ternyata kemudahan yang kita bayangkan karena kita berpikir konsep telah matang misalnya, tidak bisa mudah juga kita dapatkan. Banyak faktor yang menghambat kemudahan skripsi juga kelulusan kita. Faktor-faktor ini yang kita sebut nanti sebagai indikator akan ujian mental dalam menjalani proses skripsi dan tugas akhir. Bersiaplah menahan diri dalam setiap emosi yang akan terpancing.

 

*Beberapa indikator yang mempengaruhi gagal dan suksesnya skripsi dan tugas akhir itu setidaknya ada 4 (bisa ditambahkan jika memang ada lagi)*:

 

  1. Mahasiswa
  2. Dosen pembimbing
  3. Kasus yang diangkat dalam Skripsi dan TA beserta sumber data
  4. Finansial support

 

*Sukses atau mudahnya menulis skripsi dan TA itu setidaknya ada beberapa kemungkinan*:

 

  1. Motivasi Mahasiswa cukup kuat untuk menyelesaikan tugas akhir seberapa sulitnya kasus yang ia angkat dalam skripsi dan TA-nya. Didukung oleh Dosen pembimbing yang selalu memotivasi dirinya dengan bimbingan yang juga berkualitas. Pun finansial yang cukup pun menjadi salah satu proses kelancaran skripsinya.
  2. Motivasi mahasiswa tidak cukup kuat, namun peran dosen pembimbing dalm memotivasi mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi dan TA-nya sangat kuat dan bahkan ikut mendorong mahasiswa untuk menggapai target. Kasus yang mudah dianalisa ataupun sulit sebenarnya tidak terlalu berpengaruh jika sang dosen sangat kuat dalam mendorong mahasiswanya dan mahasiswa pun akan sukses dan cepat lulus jika memang terpengaruh dengan motivasi dari sang dosen.

 

*Gagal atau sulitnya menulis skripsi dan TA pun setidaknya ada beberapa kemungkinan*:

 

  1. Motivasi Mahasiswa cukup kuat untuk menyelesaikan tugas akhir seberapa sulitnya kasus yang ia angkat dalam skripsi dan TA-nya. Namun sayang, dosen pembimbing tidak terlalu mendukung atau malas dalam membimbing atau tidak memproritaskan mahasiswanya atau sangat sibuk dengan aktivitas lain sehingga menomorduakan bimbingan. Disini seberapa kuatnya motivasi dan rajinnya mahasiswa, ia tidak akan bisa melaju mulus jika dosen pembimbingnya mengabaikan bimbingan. Karena bimbingan adalah nyawa dari skripsi dan TA.
  2. Mahasiswa dan dosen pembimbing sama-sama tidak punya keinginan yang cukup kuat untuk dibimbing dan membimbing.
  3. Mahasiswa malas bimbingan. Sementara dosen pembimbing tidak terlalu sibuk dan selalu punya waktu untuk bimbingan, namun jika sang mahasiswa malas, ia menjadi tidak terlalu peduli.

 

Lalu bagaimana menyikapinya??

 

SABAR dan JANGAN MALAS. Hanya itu kuncinya. Apakah ia sukses atau tidak dalam skripsi, ya tetaplah tegar dalam ujian ini. IKHTIAR dan TAWAKAL.

 

Skripsi dan TA hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak ujian yang harus dilalui. Karena nanti kita akan menghadapi ujian yang lebih besar dari sekedar skripsi. Semakin tinggi seseorang pasti semakin tinggi pula ujiannya. Indikasi yang saya kemukakan diatas sebenarnya berdasarkan pengalaman yang saya rasakan sendiri dalam menjalani tahap akhir di perkuliahan.

 

Saya pun termasuk mahasiswa dengan tipe kemungkinan lamanya menyusun skripsi dengan deraan ujian dari pihak pembimbing yang sangat sibuk dan tidak punya cukup waktu dalam membimbing saya. walhasil, ketika teman-teman seangkatan satu persatu di-wisuda saya masih harus berkutat dengan skripsi.

 

Oh ya, satu lagi. Cepat atau lamanya seorang mahasiswa lulus bisa juga dipengaruhi oleh fakultas dan jurusan tempat ia kuliah. Sebab kebijakan perguruan tinggi, fakultas dan jurusan pun berbeda dalam memproses tahap akhir mahasiswanya. Ada yang memang tidak bisa lulus 3,5 tahun, karena faktor-faktor yang menghambat di jurusannya. Seperti kebijakan proses mendapat dosen pembimbing yang cukup lama, atau stok dosen pembimbing yang sedikit, atau juga kebijakan pra-skripsi dan TA yang menghambat mahasiswa langsung menyusun skripsi dan TA.

 

Ya begitulah kenyataannya. Sebab biasanya yang sudah terpatri dalam pikiran masyarakat kita ialah, seorang mahasiswa baru bisa dinyatakan sukses dan cerdas jika ia cepat lulus. Padahal tidak begitu juga. Mahasiswa yang lulusnya lama pun tidak bisa disalahkan atau di-judge bahwa ia kurang cerdas atau lainnya. Bisa jadi ada faktor administrasi dan kebijakan kampus yang menghambatnya.

 

Wallahua’lam…

 

PS. Teruntuk teman-teman yang tengah menjalani skripsi dan tugas akhir, semangat dan berkah!!

Liqo yang Berkah dan Muntijah

Liqo yang berkah ialah liqo yang terdiri atas orang-orang yang baik dan bermanfaat dan memenuhi syarat kepada keberkahan itu sendiri. Lalu seperti apa syarat yang harus dipenuhi agar diri kita membawa keberkahan dan manfaat kepada liqo kita? Dan seperti apa cirri-ciri liqo yang muntijah?

 

Berkah à sesuatu yang menghadirkan kebaikan dan manfaat. Segala sesuatu bukan dilihat dari banyaknya (kuantitas) melainkan dilihat dari barokahnya.

 

*menurut Ibnu Qoyyim, seseorang bisa dikatakan berkah yaitu ada pada*:

 

  1. Pengajarannya terhadap segala macam kebajikan dimanapun ia berada,
  2. Nasehat yang ia berikan kepada semua orang yang berkumpul dengannya.

 

*jika dua yang diatas tidak terpenuhi, maka…*

 

  1. Membuang waktu dalam kehidupan,
  2. Merusak hati.

 

*kesimpulan dari Ibnu Qoyyim agar kita berkah*:

 

  1. Menjadi guru untuk segala macam kebaikan
  2. Memberi nasehat kepada semua orang
  3. Menjadi juru dakwah
  4. Menjadi pengingat manusia agar mereka tidak lalai
  5. Memotivasi manusia untuk terus taat kepada Allah

 

*Ciri-ciri Halaqoh (liqo) yang muntijah (produktif)*:

 

  1. Al-fahmu Al-kamil (maksudnya anggotanya memiliki pemahaman yang cukup baik/sempurna)
  2. Al-Khibroh bin Nufus (mampu mengambil pengalaman atau hikmah dari setiap pelajaran yang diberikan)
  3. Waqi’ Amali (keteladanan dengan amal perbuatan)
  4. Berkemauan kerasa untuk melakukan aqidah salafusholih
  5. Menjauhkan diri dari sifat ta’asub (fanatisme buta)
  6. Menghindari ghibah
  7. Melakukan ishlah (koreksi) (terhadap sesama anggota jika ada kekeliruan atau masalah)
  8. Tidak menyiakan waktu (liqo memang bukan tempat untuk gossip atau berbicara hal yang tidak penting)
  9. Istiqomah.

 

Demikian kiranya sekilas mengenai syarat dan cirri liqo yang berkah dan muntijah. Semoga bermanfaat dan kita pun bisa menjadi (atau setidaknya berusaha) mengambil hikmah dari apa-apa yang kita dapat.

 

Wallahua’lam…

 

thx to murobbiyahku…