Memurnikan Cinta

Oleh Rizki Romdhoni * (Penulis merupakan salah satu teman pemilik blog ini. beliau cukup aktif di bidang kaderisasi beberapa organisasi dakwah di Jakarta)

Rasulullah Saw bersabda, “ada tiga hal, jika ketiganya ini ada padadiri seorang maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu (1) menjadikan Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari apapun juga (2) mencintai seorang hanya karena Allah (3) membenci untuk kembali kepadakekafiran setelah sebelumnya Allah menyelamatkannya, sebagaimana iamembenci jika dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhori, Muslim,Ahmad, Tirmidzi, Nasa’I dan ibn majah dari Anas)

Ada fenomena hijrah yang tersirat dari hadits di atas, yang selalumembutuhkan siraman dan pemeliharaan. Hijrah yang memindahkankehidupan kelam menjadi kehidupan yang lebih bersih, lebih cerah danlebih menjanjikan. Sahabat Rasulullah adalah orang yang paling mampumerasakan manisnya iman itu, setelah sebelumnya bergelimang dengankehiruk pikukan kehidupan jahiliyah, yang kemudian mereka tutup denganhijrah tersebut.Namun pada akhirnya sekedar rasa itu saja ternyata belum cukup,terbukti dengan taujih Rasulullah ini yang memotivasi mereka untukselalu memelihara, menyirami dan memupuki tanaman iman ini. Karenakeimanan, sebesar apapun dan semanis apapun, ternyata masih rentanterhadap godaan-godaan dan badai topan yang selalu menerjang.

Sebagaimana juga rentannya hati manusia dari noda-noda hitam yangmengkelamkannya. Tidak pandang bulu siapakah manusia itu, ustadz,mahasiswa, da’I atau para sahabat Rasul sekalipun. Mungkin inilahhikmahnya mengapa Rasulullah mengatakan hal ini langsung di hadapanpara sahabatnya.

Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur, Rasulullah pernah memberikanwarning akan pentingnya menjaga motif dalam berhijrah. Ketika itu beliau mengatakan, “bahwasanya segala perbuatan itu tergantung dariniatnya dan bahwasanya seorang itu akan mendapatkan (ganjaran dariAllah) sebagaimana yang diniatkannya. Maka barang siapa yang berhijrah karena mengharapkan Ridho Allah dan RasulNya, maka ia akanmendapatkannya. Namun barang siapa yang berhijrah karena mengharapkan hal-hal yang bersifat keduniawian atau karena ada seorang yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu akan mendapatkan sebagaimana yangdiniatkannya.”

Sesungguhnya sangat tragis, seseorang yang sudah mengahbiskan waktu,biaya, tenaga dan usaha untuk sebuah aktivitas yang secara dzohir adalah aktivitas da’wah, namun ternyata didalamnya terdapatkegersangan dan kerapuhan yang memotivasi aktivitas tersebut. Apalagi hanya karena faktor “lawan jenis” yang diharapkan dapat hidupbersamanya kelak. Walaupun mungkin dimata manusia, kerapuhan itu tidaknampak, namun dimata Allah, hal sekecil apapun tidak akan ada yang tertutupi.

Untuk itulah Rasulullah tidak bosan untuk mentaujih sahabatnya denganketiga hal ini.
1. Pertama untuk mencintai Allah dan RasulNya diatas segala-galanya, yang sekaligus juga memberikan nuansa untuk meluruskanniat-niat dari bisikan syaitan dan manusia yang akan mengotorinya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah juga mengingatkan “sesungguhnya Syaitan itu berjalan dalam tubuh anak cucu adam sebagaimana perjalanannya darah”.
Sebuah ungkapan yang memberikan suatu rasa bahayanya bisikandan godaan syaitan. Oleh karena itulah, niat yang lurus tetap harusdijaga kelurusannya sampai waktu yang tak terbatas, karena tidakmustahil, yang lurus bias menjadi bengkok di tengah jalan. Dan jikasudah bengkok, itu merupakan pertanda musnahnya amalan-amalan yangtelah dengan lelah diusahakannya.

2. Kedua, Rasulullah mentaujih untuk mencintai seseorang hanya karenaAllah.
“warning” yang kedua ini, meskipun bernuansa ukhuwah, namunlagi-lagi kembalinya kepada niat yang bersih. Ukhuwah dengan segalakeutamaan yang dimilikinya. Jangan sampai keinginan-keinginan duniawimenyelinap lalu menggerogot habis nilai-nilai keukhuwahan itu sendiri.Ketiga, adalah hal yang sangat kental nuansa keterkaitannya denganhijrah. Setelah kenikmatan hijrah itu terasa manisnya dalam hati,dalam gerakan dan dalam segenap aktivitas, maka jangan sampaikenikmatan ini pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada si pemiliknya. Namun terkadang, hal ini pulalah yang sering banyakdilupakan oleh kita semua.

Ada sebuah fenomena yang terasa berbeda ketika seseorang melangkahkan kakinya ke dalam dunia islam yanghakiki. Ada derai air mata yang membasahi pipi ketika teringat betapadahulu ia bergelimang dosa. Ada pula tetesan air mata lain ketikamenikmati lantunan ayat suci al qur’an dibacakan dalam sholat malam. Dan ada berbagai kenikmatan lain yang teramat sukar digambarkan dengankata-kata…Mungkin itulah halawatul iman, yang memang tak sebanding dengankenikmatan dunia yang fana. Karena kenikmatan manisnya iman ini adalahkenikmatan abadi yang tiada pernah akan diketahui kecuali oleh merekayang pernah merasakannya. Namun entah mengapa, ketika ia harus bergesekan dengan waktu, kegiatan-kegiatan da’wah dan setumpuk agenda lainnya yang secara formal menggambarkan keiltizaman terhadap islam, justru kenikmatanmanisnya iman ini terasa kian lama kian pudar. Diakui atau tidak,demikianlah kenyataannya.

Terasa dalam sanubari,kelonggaran-kelonggaran praktis dengan berbagai alasan, yang seolahmemaksa kita untuk melegalkan berbagai tindakan yang sebenarnya tidak syar’I. marilah kita jujur kepada diri kita sendiri dan tentunyakepada Allah, tentang seberapa jauh sudah kita tinggalkan Dia? Betapaternyata dalam formalitas kedekatan kita kepadaNya ada jurang yang kita buat sendiri yang justru memisahkan kita dengan Allah. Seorang da’I memang memerlukan perenungan kembali tentanglangkah–langkahnya sendiri. Tadabur yang dapat membenahi kembali langkah-langkah kaki menggapai ridho ilahi. Kalau dahulu kita bisa hijrah meninggalkan kemaksiatan, seharusnya semakin lama kita semakinjauh dengan dengan kemaksiatan tersebut, bukan malah mencoba bermainapi dengan ‘sesama aktivis da’wah’ dalam kemaksiatan yang sama.

Syaitan tetaplah syaitan, yang selalu berupaya menjebloskan langkah kaki kita dalam lobang-lobangnya. Syaitan akan bergembira karena bisa menjebloskan kita ke jalannya setelah kita hijrah, padahal dulu merekakecewa melihat kita hijrah. Ada benang merah yang sukar dipisahkan baik ketika kita berada dalamkejahiliyahan maupun setelah kita berhijrah, yaitu ketika kita jugaterperdaya oleh makar-makarnya. Benang merah itu adalah bahwa kitasama-sama masih terjerat dalam tipuan syaitan.Begitulah memang salah satu dimensi kehidupan manusia yang sangatlemah, manusia yang tiada daya dan selalu terperdaya. Maka sudah jelasbagi kita, bahwa tidak ada jalan lain, kecuali untuk merajutjalanmenuju RidhoNya. Marilah kita mentajdid (memperbaharui kembali)kehijrahan kita, untuk merasakan kembali manisnya iman yang sempatmenghilang dari sanubari kita yang paling dalam. Jangan biarkan iahilang untuk selamanya, jangan pula kita mencerai beraikan lagibenag-benag yang sudah kita pintal sendiri.

Allah SWT mengatakan dalamAl Qur’an “dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatankeji atau menganiaya diri sendiri, mereka langsung ingat kepada Allahlalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yangdapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidakmeneruskan perbuatan kejinya sedangkan mereka mengetahui. Mereka itubalasannya adalah ampunan dari Rabb mereka dan syurga yang didalamnyamengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulahsebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Q.S 3:135-136)

Bersihkan Hati Wahai Da’iManusia diciptakan Allah SWT dengan memiliki dua komponen pentingdalam dirinya: pertama komponen materiil, yang berupa jasadiyah dengansegala kesempurnaannya. Kedua, komponen ruhiyahnya berupa ruh yangAllah tiupkan ke dalam tubuh manusiaKomponen kedua inilah sebenarnya yang memiliki kekuatan besar dalamdiri manusia, karena lebih dapat menangkap dan memahami tentanghakekat keberadaan alam semesta ini. Kekuatan ruhiyah ini adalahkekuatan yang tiada batas, yang dapat menembus dinding-dinding batuanyang kua, dan dapat menerjang dan bertahan di tengah-tengah goncanganbadai yang teramat dahsyat sekalipun.

Muhammad Qutub mengatakan,”bahwa kekuatan ruhiyah tidak mengenal batasan ikatan, dan tidak pulamengenal keterbatasan waktu dan tempat…”

Atas dasar urgensitas inilah, maka para aktivis da’wah seyogyanyaadalah mereka-mereka yang menitikberatkan tarbiyah nafsiyahnya padasector ruhiyah ini. Karena sector ini menunjukkan secara dzohiritentang kadar kebersihan jiwa seorang al akh ataupun ukht. Melalaikanhal ini merupakan salah satu bentuk membiarkan diri terbawa aruskehancuran.

Padahal Allah mengatakan: walaa tulqu biaydikum ilattahlukah “dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalamkebinasaan” (2:195)

Dapat kita bayangkan, bagaimana kadar keimanan orang-orang yang menjadi mad’u kita, masyarakat sekitar kita, jika para da’iyahnya sendiri hanya memiliki kadar ruhiyah sekitar misalnya 5% saja? Apakahkadar sekecil ini mampu mengantarkan mereka untuk memikul beban da’wahyang teramat berat ini?

Benar sekali apa yang dikemukakan Ustadz fathiyakan, bahwa “tanggung jawab seorang da’I terhadap dirinya sendirijauh lebih besar dibandingkan dengan tanggung jawab mereka kepadamasyarakatnya.”

Karena kecacatan pada ruhiyah seorang da’I,berimplikasi besar pada langkah-langkah da’wahnya, yang berakibat pulapada kecacatan dalam menyampaikan amanat-amanat da’wah.

Mengenali penyakit-penyakit pribadi da’i Ustadz fathi yakan dalam musykilat ad da’wah wa al da’iyah menjabarkantentang penyakit-penyakit yang harus dituntaskan dalam diri aktifisda’wah. Ada empat hal yang beliau utarakan, yaitu:

A. Du’atul islam ahwaajunnas litta’arufi ila ‘uyubihim (aktifis da’wahadalah orang yang paling berkepentingan untuk mengenali”penyakit-penyakit pribadinya sendiri”)
Sebagaimana yang terkandung dalam muqodimah, seorang aktifis da’wah adalah orang yang memiliki tanggung jawab yang besar terhadappengisian ruhiyah pribadinya. Bahkan tanggung jawabnya terhadap dirisendiri lebih besar dibandingkan dengan tanggung jawabnya terhadapmasyarakatnya. Oleh karena itulah, mengenali aib (penyakit-penyakithati) nya adalah komponen dasar dalam mentarbiyah pribadinya. Penyakit sekecil apapun, tidak boleh luput dari perhatian da’I, apalagi dianggap remeh.

Karena yang kecil merupakan pintu menuju kepada yanglebih besar, ada beberapa cara untuk mengenali penyakit-penyakit hati:
1) Pro aktif mencari majelis-majelis ulama yang memiliki banyakpengalaman di jalan da’wah, untuk mendengar taujih, nasehat, bahkanjika ada kesempatan bertanya langsung kepada mereka, tentang”panyakit” yang kita miliki

2) Memiliki seseorang akh atau ukht yang dianggap memiliki nilai plusdalam ruhiyah dan da’wa, kemudian mengakrabinya. Dari keakraban iniakan muncul tanasuh dan tawashi. Umar bin khottob sendiri yang sudahmendapatkan berita gembira mendapatkan surga, berkata rohimallahuimraan ahda ila ‘uyuubi “semoga Allah memberi rahmat kepada orang yangmau menunjukkan aib-aibku”. Suatu katika beliau bertanya kepadakhuzaifah ibn yaman, engkau adalah sahabat yang menyimpanrahasia-rahasia Rasulullah tentang kaum munafik, apakah engkau melihatpada diriku cirri-ciri kemunafikan?

3) Mengetahui penyakit pribadi dengan bercermin dari penyakit oranglain. Ketika kita melihat orang lain memiliki penyakit tertentu, makaketika itu pula kita berusaha menjauhi penyakit yang sama dalam dirikita.

B. Du’atul islam wa daa al kibr (aktifis da’wah dan kesombongan)
Pada hakekatnya, aktifis da’wah adalah orang yang rentan terhadappenyakit “al kibr”. Karena segala sector yang dimasuki da’I, merupakansector-sektor yang tumbuh dengan suburnya bermacam-macam penyakit ini.Oleh karena itu Rasulullah SAW sendiri dalam do’anya selalumengucapkan:”Allahuma inni a’udzu bika min nafkhotu al kibriya”Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari tiupan (buaian) kesombongan’.

Ada beberapa penyebab yang menimbulkan penyakit al kibr ini dalamhatipara aktifis da’wah:
1) Ghurur al Ilm (ghurur/perdayaan ilmu)
Seseorang yang dilebihkan Allah SWT dalam hal keilmuan, rentan dengantipuan ghurur ilmu ini. Seorang ustadz, yang biasa dihormati orangkarena memberikan ceramah, taujih, seringkali terbiasa oleh sikap”merasa paling benar, paling tahu dalam masalah agama,”,dsb. Sehinggaterkadang sulit baginya untuk menerima suatu nasehat, kritik dansebagainya dari orang lain. Terlebih-lebih jika orang yangmenasehatinya itu berada dibawahnya dalam keilmuannya. Maka tidakheran jika Rasulullah mengatakan; afatul ‘ilm al khilaa “penyakit ilmuadalah kesombongan”

2) Ghurur at tadayyun (Ghurur tadayun)
Yang dimaksud dengan ghurur tadayun ini adalah sikap ghurur yangditimbulkan oleh sikap merasa yang paling sempurna dalam menjalankan syari’at-syari’at islam. Dari sikap seperti ini, berimplikasimenganggap orang lain tidak memiliki kesempurnaan, kecuali denganmelakukan seperti yang dilakukannya. Aktifis da’wah juga sangat rentanterhadap penyakit ini.

3) Ghurur asy Syakhshiyyah (Ghurur kepribadian)
Ghurur ini adalah akibat dari rasa bangga seorang dengan dirnyasendiri, baik dari segi fisik, wajah, pakaian, kekayaan, keluarga,dsb. Bentuk yang elok sebagai aktifis da’wah seperti jenggot yangterpelihara rapi, baju koko, jubah panjang, jilbab yangberkibar-kibar, dsb. Bias menjadikan seseorang terjerumus dalam ghururini. Apalagi jika “atribut-atribut” seperti itu mendapatkan pujiandari aktifis lain. Maka hendaknya seorang aktifis merasa bahwa yangterpenting adalah sesuatu yang terdapat dalam relung hatinya.

Rasulullah SAW bersabda;Innallaha laa yandzuru ila ajsadikum wa laa ila suwarikum wa lakinyandzuru ila qulubikum wa a’malikum “sesungguhnya Allah itu tidakmelihat pada fisik-fisik dan bentuk-bentuk kamu, melainkan Allahmelihat pada hati-hati kamu dan ‘amal-’amal kamu”

C. Du’atul islam fi tho’atillah (aktifis da’wah dalam ketaatannya kepada Allah)Aktifis da’wah tertuntut untuk melakukan mutaba’ah terhadap dirinyaguna meningkatkan kadar keimanan yang dimilikinya, karena da’I selalu berinteraksi dengan mereka-mereka yang banyak melalaikanperintah-perintah Allah.

Oleh karena itu, da’I tertuntut untukmemiliki perhatian khusyu’ terhadap masalah-masalah ubudiyah kepadaAllah.
Di antara yang terpentingnya adalah;
• Qiyamulail
• Sholat jama’ah
• Tilawatul Qur’an
• Merenungi kenikmatan-kanikmatan yang Allah berikan, seperti dalam makanan.
• Itqon (bersungguh-sungguh) dalam beramal dan berusaha
• Muroqobatullah (merasa diawasi Allah) dimanapun kita berada
• Silaturahmi/ziarah
• Menambah tsaqofah (wawasan/ilmu)
• Kesiapan jiwa untuk berkorban dalam islam
• Memberikan hak kepada seluruh jasad kita.

D. Du’atul Islam wal huduudu asy syar’iyah lil alaqotu al ukhuwwah(aktifis da’wah dan batasan-batasan syar’I dalam hubungan ukhuwahislamiyah)
Ukhuwah merupakan salah satu pondasi dalam harokah islamiyah. Ukhuwah merupakan ikatan persaudaraan antara seorang akh dengan yang lainnya,antara seorang ukht dengan yang lainnya juga. Ukhuwah dalam sejarahnyatercatat sebagai hal yang Rasulullah SAW bangun, sebelum beliaumembangun masyarakat islam madinah pada waktu itu. Bahkan ukhuwah jugadijadikan standar kesempurnaan iman seseorang.

La tadkhulu al jannah hatta tu’minu walaa tu’minu hattaa tahaabu “kamutidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan kamu tidak dikatakanberiman hingga kamu saling mancintai”
Ukhuwah sangat membantu kerja da’wah dalam bentuk apapun, sangat cepatmengobati kesedihan hati seorang akh atau ukht, ketika menghadapiganjalan dalam da’wah.namun tidak jarang, ketika tujuan-tujuan Robbanidari ukhuwah itu sedikit bergeser, bergeser pula pola ukhuwah menjadi”hubungan lain” yang justru jauh dari sifat-sifat ke ukhuwahan.Ukhuwah tidak boleh berlebihan, seperti hubungan orang yang bermesraandan tidak boleh pula ‘kekurangan’, hingga terasa keringdan salingacuh. Namun ukhuwah adalah ukhuwah, yang terdiri di atas tonggakkeimanan kepada Allah yang maha penyayang, dan berjalan diatas rel alQur’an dan Sunnah.

Jika ukhuwah sudah keluar dari bingkai aslinya,maka akan hilang pula dhowabit syar’iyah yang tidak mustahil akanmenjerumuskan keduanya dalam hal-hal yang tidak terduga sebelumnya.Aktifis da’wah lagi-lagi dituntut untuk memahami benar hal ini.Hendaknya mereka waspada akan segala fikiran yang terlintas dalambenaknya. Mereka juga harus mendudukkan “saudaranya” sebagaimana yangdipersepsikan islam. Hati seorang da’I harus tetapsuci, bersih dantidak pernah ada yang kekal dalam memori hatinya, kecuali Allah danAllah… tidakkah teringat oleh kita semua, ketika Rasulullah memiliki nilai ukhuwah yang teramat tinggi kepada abu bakar,
beliau mengatakan;Lau kuntu muttakhidza min ahli al ardhi kholiila, liattakhidzati ababakrin kholiila “sekiranya aku boleh mengambil seorang kekasihdiantara penduduk bumi ini, sungguh aku akan menjadikan abu bakersebagai kekasihku”

Ada juga keteladanan lain yang di contohkan salafuna soleh dalamsebuah ungkapannya;Wuqifat ‘ala baabi qolbi arba’iina ‘aaman hatta laa yadkhulatihghairullah “aku menjaga pada pintu hatiku selama empat puluh tahun,hingga tak satupun yang dapat memasukunyya selain Allah.”

KHOTIMAH Hati seorang da’I adalah sebagaimana yang Rasulullah gambarkan; “hatiitu terpampar dengan fitnah-fitnah, seperti tikar yang terurai-urai.Hati mana saja yang menerima fitnah-fitnah tersebut, akan berbintikhatinya dengan bintik-bintik hitam. Dan hati mana saja yang menolak fitnah-fitnah tersebut, maka akan berbintik hatinya denganbintik-bintik putih, hingga akan menjadi dua hati. Hati yang putih seperti sesuatu yang jernih yang tidak akan terusakkan dengan fitnahapapun selama ada langit dan bumi. Atau hati hitam seperti debu yangtidak mengenal kebaikan dan tidak pula mengingkari kemungkaran.”Sudah seharusnya aktifis da’wah menjaga kesucian niatnya dari apapunyang dapat merusak kesucian hatinya. Agar amanat da’wah yangdiembannya benar-benar dapat dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Jangan sampai kita menjadi penyeru kepada kebaikan, namun kita sendiriterbuai dalam kemaksiatan.

Mengenai hal ini ibn samak mengatakan: “betapa banyak orang yang mengajak untuk mengingat Allah, namun diasendiri melupakan Allah… betapa banyak orang yang mengajak untuk takutkepada Allah, namun ia sendiri berani terhadapnya… betapa banyak orangyang mengajak untuk mendekatkan diri kepada Allah namun ia sendiri jauh dari Allah… lari dariNya… dan betapa banyak orang yang membaca ayat-ayat Allah, namun ia sendiri melepaskan diri dari ayat-ayatAllah. Para sahabat Rasul pun ketika menjaga hati mereka, sampai –sampaimereka takut untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka dihadapanAllah;Abu bakar berkata; laitanii matsaluka thooir walam akhluqu basyar “sekiranya aku sepertimu wahai burung, dan aku tidak diciptakan sebagaiseorang manusia…” abu dzar al Ghiffari juga berkata; wudidtu anniisyajaratan ta’dhid “betapa inginnya aku jika aku seperti sebatangpohon yang ditebang…”

utsman ra. Juga mengatakan; wudidtu annii laumuttu lam ab’ats “betapa inginnya aku jika aku mati tidak dibangkitkankembali…”

Jika mereka yang sudah mendapatkan pujian langsung dari Allah danRasulNya saja memiliki rasa kekhawatiran yang sedemikian rupa, maka kita seharusnya 100% lebih takut dibandingkan mereka.
Wallahu a’lam wa illallahi qashdusabil.

Maroji’:
Qowarib al najah fi hayat al du’at Utz Fathi Yakan
Musykilat al Da’wah wa al Da’iyah utz Fathi YakanHayatuna Al Ruhiyah, abd al Hamid al balaly, majalah al mujtama’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s